Kualitas Hutan Batangtoru Tapsel Terus Dipertahankan

Medanmerdeka.com – Bentang alam hutan Batangtoru memiliki peran penting bagi flora dan fauna serta masyarakat yang hidup di dalamnya. Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru sudah menyiapkan rencana pengelolaan agar kualitas hutan yang ada di sana bisa dipertahankan.

Ketua Forum DAS Batangtoru Adriani Siahaan menjelaskan saat ini pihaknya sedang mendata seluruh kondisi hutan. Untuk hutan yang dalam kondisi rusak, maka penanaman dengan jenis pohon yang disukai masyarakat akan dilakukan.

“Kami akan tanami dengan pohon yang dibutuhkan oleh hutan dan juga dibutuhkan masyarakat,” katanya ketika dihubungi, Selasa (6/11/2018).

Forum DAS adalah forum multipihak yang menghimpun seluruh sektor yang terlibat dalam sebuah DAS. Lewat forum ini pengelolaan DAS akan lebih komprehensif seingga setiap sektor bisa mencapai tujuan pembangunannya secara berkelanjutan.

DAS Batangtoru mencakup 5 Kabupaten dan 1 Kota. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas DAS Batangtoru sekitar 329.420 hektare (ha). Saat ini DAS Batang Toru diklasifikasikan sebagai “dipulihkan”.  Di sana terdapat lahan sangat kritis seluas 5.794,65 hektare (1,76%) dan lahan kritis seluas 42.301,07 (12,84%).

Menurut Adriani, di antara jenis tanaman yang akan dimanfaatkan adalah kemenyan (Styrax sumatrana J. Sm) atau dalam bahasa setempat haminjon dan pohon kamper (Dryobalanops aromatica) penghasil kapur barus. Dua jenis tanaman tersebut sejak lama dikenal sebagai salah stau tanaman kehidupan bagi masyarakat Tapanuli. “Sekitar 80 persen pasokan kemenyan dunia, berasal dari Tapanuli,” kata Adriani.

Jenis tumbuhan dipilih yang memang disukai masyarakat sebab merekalah yang nanti akan merawat di lapangan. Adriani menyatakan, pemetaan dan pendataan diharapkan tuntas pada akhir tahun ini sehingga rencana pengelolaan bisa dieksekusi mulai tahun 2018 mendatang.

Adriani menekankan hutan yang ada di bentang alam Batangtoru sepatutnya bisa memberi manfaat secara berkelanjutan. Untuk itu, setiap pemanfaatan hasil hutan maupun jasa lingkungan harus diikuti dengan pengembalian ke alam.

Mendukung pembangunan

Hal itu berlaku juga untuk proyek energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangoru yang sedang dalam tahap persiapan pembangunan.

Adriani menyatakan, pihaknya siap mengawal PLTA Batangtoru untuk mengembalikan manfaat jasa air yang diperoleh ke bentang alam Batangtoru.

Sambungnya, pada saat proyek dikembangkan pasti akan ada pembukaan lahan. Namun pembukaan lahan itu hanya bersifat sementara dan tutupan vegetasi harus dikembalikan.

Sebelumnya, Direktur Pengendalian Kerusakan Perairan Darat KLHK Sakti Hadengganan menyatakan,  rencana pembangunan PLTA di Batangtoru bisa berdampak positif pada kesehatan DAS setempat.

PLTA tersebut, katanya, tidak membangun bendungan skala besar. Ini berarti kesinambungan pasokan air akan mengandalkan aliran sungai.

“PLTA punya kepentingan untuk menjaga DAS Batangtoru.  Mereka membutuhkan pasokan air yang berkesinambungan,” kata Sakti beberapa waktu lalu.

Menurut Sakti, karena memiliki kepentingan, maka  pengembang PLTA Batangtoru, PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) perlu untuk menginternalisasikan biaya pengelolaan hulu DAS Batangtoru ke dalam biaya produksi listrik yang dihasilkan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk perbaikan hulu DAS yang masuk ke dalam kawasan hutan,  pengembang PLTA Batangtoru bisa melakukannya dengan pendekatan public private partnership.

Sementara untuk lahan dengan status Areal Penggunaan Lain (APL)  yang dimiliki masyarakat, bisa dilakukan dengan pendekatan imbal jasa lingkungan dengan pola-pola insentif dan pendampingan agar masyarakat melakukan budidaya agroforestry yang mendukung pengelolaan tata air.(zt/mm)

Comment