LSM Minta Pemerintah Awasi Limbah Tambang Emas

Medanmerdeka.com – Ancaman kerusakan lingkungan masih terus menghantui kawasan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) akibat berbagai aktivitas perusahaan tambang yang ada. Ironisnya, pengawasan terhadap perusahaan tambang sangat sulit dilakukan, termasuk oleh pihak pemerintah sendiri.

Direktur Jaringan Monitor Tambang (JMT) Ali Adam mengatakan, dampak kerusakan lingkungan sangat nyata oleh aktivitas pertambangan akibat eksploitasi kawasan dalam radius yang sangat luas.

“Sebut saja PT Agincourt Resources, tidak ada yang kontrol sampai kemana dia. Ini sudah kami sampaikan saat koordinasi dan supervisi (korsup) minerba di KPK. Kita sudah lapor mereka tebangi hutan,” katanya, Jumat (30/11).

Sambung Ali, JMT sangat berkepentingan untuk ikut melakukan pengawasan terhadap berbagai aktivitas perusahaan yang berpotensi menambah kerusakan lingkungan di kawasan Batangtoru. Hal ini mengingat dampak langsung dari berbagai kerusakan ini berkaitan dengan kelangsungan hidup masyarakat setempat.

Ia mencontohkan, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada keberadaan sungai Batangtoru, yang menjadi salah satu penopang kehidupan masyarakat. Khusus mengenai sungai ini, Agincourt Resourches juga sangat memiliki kepentingan yakni sebagai tempat pembuangan limbah tambang.

“Limbah mereka dibuang ke sana meskipun sesuai ambang batas karena sungai dapat memulihkan diri. Tapi jika fungsi sungai itu terganggu, maka limbah itu akan menumpuk dan dampaknya tentu terhadap masyarakat,” ujarnya.

Kondisi ini menurut Ali Adam, harus menjadi perhatian dari pemerintah atas berbagai rencana pembangunan yang akan dilakukan di Batangtoru. Orientasinya tidak boleh hanya untuk kepentingan bisnis, melainkan harus merancang hak masyarakat atas potensi bencana yang berpotensi terjadi.

“Selama ini yang selalu dilakukan kan hanya menyampaikan kepada masyarakat ini mau dibangun, kemudian kepada masyarakat dibangunkan fasilitas umum. Tidak boleh berkutat disitu saja. Namun juga, harus mulai merancang skema terkait hak apa yang akan diterima masyarakat jika terjadi hal yang tidak diinginkan, karena di sana itu juga masuk dalam sesar gempa,” pungkasnya.

Kekhawatiran pencemaran lingkungan akibat limbah muncul karena penambangan emas menggunakan bahan kimia dalam proses produksinya. Salah satu bahan yang lazim digunakan dalam pertambangan emas adalah merkuri.

Bahaya merkuri

Paparan merkuri yang berlebih pada manusia bisa menyebabkan kerusakan otak, penurunan tingkat kecerdasan, kerusakan ginjal dan jaringan kardiovaskular. Hal ini yang mendorong JMT mendesak pemerintah bersikap tegas.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan IPEN, sebuah jaringan kesehatan masyarakat dan lingkungan global dan Biodiversity Research Institute (BRI), mengungkap, keberadaan racun merkuri dalam kadar yang tinggi pada perempuan usia subur di semua wilayah global pada, termasuk di Indonesia.

“Jutaan perempuan dan anak-anak di komunitas pertambangan emas dengan merkuri dikutuk ke masa depan dimana merkuri merusak kesehatan orang dewasa dan merusak perkembangan otak keturunan mereka. Selama perdagangan merkuri terus berlanjut, tragedi merkuri juga akan terus berlanjut,” kata Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus dan IPEN Lead for ASGM/Mining.(ir/mm)

Comment