oleh

PT NSHE Bangun PLTA Ramah Lingkungan

Medanmerdeka.com – Kondisi alam Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi sebuah kekuatan bagi PT.North Sumatera Hydro Energy (NSHE) dalam membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ramah lingkungan di daerah itu.

Agus Supriono, manajer Humas, dalam siaran persnya diterima, Kamis (7/6/2018) mengatakan NSHE saat ini baru tahap pertama membangun jalan, yakni akses menuju lokasi proyek PLTA menghasilkan listrik sekitar 510 Megawatt di daerah itu.

Menurut dia, PLTA Batangtoru sebagai pembangkit listrik enerji  terbarukan yang tidak di temukan ada di daerah lain. Karena kondisi lingkungannya yang unik tebing-tebing curamnya berbetuk cekungan tajam huruf ‘V” dimana titik dam akan di bangun.

“PT.NSHE akan mengolahnya menjadi sebuah dam yang akan di operasikan dengan metode kerja yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Cekungan tajam sebagai ‘Daily Pond’ untuk menampung air yang akan bertindak sebagai penggerak turbin nantinya,”katanya.

Bahkan desain bendungan dan metode kerja PLTA Batangtoru hanya cuma akan mengggunakan lahan seluas 67,7 hektar sebagai lahan penggenangan air, serta 24 hektar lahan lainnya, yang ada di badan sungai.

Sebagai pembangkit listrik dengan menggunakan enerji terbarukan yaitu air tentunya keberadaan PLTA Batangtoru nantinya sangat tergantung pada ketersediaan air yang menjadi penggerak utama dari turbin yang kami operasikan.

“Karenanya untuk menjaga ketersediaan air dengan debit yang terus terjaga, akan merupakan kebutuhan utama PLTA untuk menjaganya agar lingkungan/ekosistem senantiasa tetap bersahabat dengan mereka,” timpal Agus Djoko Ismanto, senior advisor bidang lingkungan, PT.NSHE.

Dikatakan Djoko, “debit air sungai Batangtoru yang rata-rata berada di kisaran 106m3/detik, akan terus di pertahankan bahkan sampai ke wilayah hilir sungai.”

PLTA Batangtoru sendiri di bangun di atas lahan berstatus Areal Penggunaan Lain(APL) atau lebih jelasnya tidak berada pada kawasan hutan. Luas lahan yang telah di bebaskan untuk pengerjaan proyek ini seluas 566,3 hektar dari total izin lokasi sebesar 7.000 hektar atau hanya sekitar 0,9% saja. Dan sisanya akan di kembalikan kepada Pemerintah setempat.

“Penggunaan lahan yang minim namun efisien dan tepat guna, memperlihatkan bahwa menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ekosistem di Batangtoru tetap merupakan prioritas kami,”tambah Djoko.(thorig/mm)

Komentar

News Feed