Desa Sigapiton Mutiara Tersembunyi Dibalik Keindahan Danau Toba

TARIAN PENYAMBUTAN: Rombongan disambut dengan tarian penyambutan oleh murid Desa Sigapiton.(foto: Ist/MM)

Danau Toba yang merupakan danau terluas di Asia Tenggara ternyata tidak hanya memiliki pemandangan indah, akan tetapi dibalik keindahannya itu ternyata menyimpan banyak potensi untuk dikunjungi wisatawan mancanegara dan wisatawan dalam negeri.

Selain pantai Bulbul, dan masih banyak potensi sumber daya alam bisa dilihat di sekitar Danau Toba, yang jika ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Medan memakan waktu kurang lebih sekitar empat jam saja. Kini Danau Toba menawarkan Desa Agrowisata Sigapiton yang dapat ditempuh dengan menggunakan kapal penyeberangan dari Parapat dan Balige hanya sekitar setengah jam.

Apalagi kini infrastruktur di Sumatera Utara terus diperbaiki dan dibangun seperti jalan tol Medan- Sei Rampah yang telah diresmikan penggunaannya setahun lalu oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, serasa perjalanan menuju Danau Toba dapat dilakukan pulang dan pergi hanya dalam satu hari saja, dan bagi pelancong yang ingin menginap di Parapat atau di Balige dan kota – kota lainya disekitar Danau Toba juga tersedia Hotel, Mess dan Penginapan lainnya dengan harga yang terjangkau.

Untuk mewujudkan Desa Agrowisata, dan menjadikannya bak Mutiara tersembunyi dibalik keindahan Danau Toba, Sekretaris Daerah Sumatera Utara (Sekdaprov Sumut) Dr Ir Hj R Sabrina MSi memotivasi warga Desa Sigapiton untuk menggali potensi argowisata dan pariwisata Danau Toba.

Sehingga Desa Sigapiton menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, pada akhirnya berdampak positif terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa serta dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Sumatera Utara.

Hal itu disampaikan Sekdaprov Sumut Sabrina pada Peresmian Kerjasama Pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba, Bank Indonesia (BI) dengan Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba, Jumat lalu di Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

“Saya melihat Desa Sigapiton terletak di dinding Danau Toba memiliki potensi besar, yang dapat dikembangkan, terutama untuk sektor pariwisata, baik itu dari potensi agrowisata maupun dari sisi pariwisatanya,” ujar Sabrina.

Dikatakan Sabrina, dilihat dari struktur dan kesuburan tanahnya Desa Sigapiton juga sangat berpotensi menjadi pusat pengembangan budidaya bawang merah. Apalagi, diketahui desa tersebut dahulunya merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah  berkualitas baik dan rasa yang khas.

“Dulunya desa ini merupakan penghasil komoditi bawang merah yang jauh lebih baik dari produksi daerah lain di Sumut. Misalnya dari kualitas dan mutunya sangat disukai oleh masyarakat Sumut, juga para wisatawan, baik dalam negeri maupun manca negara. Wisatawan juga bisa melihat langsung, bahwa tanaman bawang merah bisa tumbuh di antara bebatuan,” kata Sabrina lagi

Begitu juga dari sisi pariwisatanya, Desa Sigapiton dapat maju dan berkembang seperti desa lainnya di kawasan Kaldera Toba. Sebab desa tersebut memiliki panorama dan wisata pantai tidak kalah indahnya dengan lokasi lainnya di Danau Toba.

“Pantai Desa Sigapiton juga sangat indah, maka saya sangat mendukung pengembangan desa ini menjadi objek wisata dan itu harus didukung semua pihak, khususnya warga sekitar dan Pemkab Tobasa juga CSR, bila tidak maka ini semua hanya menjadi potensi saja,” jelasnya.

Seperti diketahui bahwa pemerintah pusat melalui kebijakannya menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia, maka Pemprov Sumut dan Pemkab sangat mendukung pengembangan wisata di desa tersebut.

Kendati demikian, kata Sabrina, pembangunan infrastruktur ke desa tersebut harus terus ditingkatkan agar konektivitas antara Desa Sigapiton maupun ke ibukota kabupaten bisa lebih lancar, hingga warga desa maupun masyarakat dari luar, khususnya wisatawan dalam maupun mancanegara bisa dengan mudah melihat objek dan menikmati keindahan  desa  tersebut.

Potensi ini mendapat dukungan dari Pemkab Tobasa. Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus sangat bangga dengan Desa Sigapiton yang menjadi perhatian dari berbagai pihak, khususnya perbankan yang mengucurkan bantuan untuk menumbuhkan gairah perekonomian masyarakat.

“Seperti dikatakan Sekdaprov Sabrina, bahwa desa ini memiliki potensi untuk membangkitkan perekonomian masyarakat, baik dari sektor pariwisata maupun agrowisata (budidaya bawang merah),”paparnya.

Oleh karena itu, baik Pemprovsu, Pemkab Tobasa, Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba,  maupun Perbankan akan membangun Desa Sigapiton menyusul daerah lainnya, yang sudah menjadi destinasi pariwisata seperti pantai Bulbul.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Arie Prasetyo bahwa sesuai arahan Presiden Republik Indonesia untuk menjadikan Danau Toba sebagai salah satu objek wisata utama Sumut.

Sementara itu, Pjs Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Hilman Trisnawan  menyampaikan, bahwa Desa Sigapiton harus dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata di Danau Toba. Diantaranya melalui pengembangan agrowisata bawang merah.

Ditambahkannya, pariwisata menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru setidaknya karena tiga hal, Pertama kita tidak bisa lagi menggantungkan pada ekspor komoditas, terutama yang memberikan nilai tambah yang rendah, ditengah perbaikan ekonomi global yang masih lambat.

Kedua, sektor pariwisata memiliki keterkaitan antar sektor yang kuat sehingga pengembangan sektor ini memberikan dampak yang besar dan cepat, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.

Ketiga, tren masyarakat yang saat ini memilih berwisata dan berbelanja, karena didukung oleh penetrasi teknologi cepat serta masuknya era sharing economy dimana akses informasi dan transaksi begitu cepat dan mudah.

Di sisi lain, komposisi penduduk usia muda yang mendominasi struktur generasi Indonesia serta pendapatan semakin meningkat juga berpeluang mendorong industri pariwisata untuk terus bertumbuh,”paparnya.

Pengembangan pariwisata penting karena dapat meningkatkan sumber penerimaan negara dan mengurangi potensi devisa keluar. Secara sederhana, apabila devisa meningkat maka stabilitas nilai tukar dapat terjaga sehingga pada gilirannya memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi ke depan,”harapnya.

Menurutnya, Bank Indonesia merasa terpanggil untuk berkontribusi nyata mendukung sektor pariwisata ke depan melalui penguatan 3A (Aksesibilitas, Atraksi, dan Amenitas) dan 2 P (Promosi dan Peningkatan Kapasitas Pelaku Usaha). Dalam hal ini, wilayah Sumatera Utara diamanahkan untuk berkiprah dalam pengembangan Danau Toba.

Pada tahun 2017, jumlah kunjungan wisman ke Sumatera Utara mencapai 261 ribu orang, meningkat 11,8% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Data di tingkat ritel juga menguatkan adanya peningkatan aktivitas wisatawan di Sumatera Utara, tercermin dari kenaikan transaksi penjualan rupiah oleh Money Changer Berizin di Sumatera Utara dari Rp1,1M pada tahun 2016 menjadi Rp1,3M tahun 2017, meningkat 17% (yoy).

Dalam hal pertumbuhan jumlah wisman, capaian Sumatera Utara lebih baik dibandingkan beberapa destinasi lainnya seperti Mandalika dan Labuan Bajo.

Namun apabila dilihat dari durasi tinggal dan nilai belanja wisman, realisasi Sumatera Utara masih dibawah nasional, yaitu 6,01 hari sementara angka nasional mencapai 8,53 hari.Hal ini mengindikasikan perlunya upaya agar wisatawan menjadi lebih betah tinggal di Sumatera Utara.

Dilihat dari kinerja sektoral, perkembangan sektor pariwisata di Sumatera Utara, yang tercermin dari kinerja subsektor akomodasi dan mamin serta subsektor transportasi dan pergudangan, juga menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, yaitu diatas 8%, melebihi kinerja sektor utama (pertanian, perdagangan, industri pengolahan) yang berada di kisaran 5%.

Sejalan dengan hal tersebut, nilai tambah dihasilkan oleh kedua subsektor tersebut-pun semakin besar yaitu mencapai Rp33,5T atau 7,5% terhadap total PDRB Sumatera Utara pada 2013 kemudian meningkat menjadi Rp50,6T atau memiliki pangsa 10,4% pada tahun 2017.

Beberapa capaian tersebut menguatkan fakta bahwa sektor pariwisata berpotensi dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan baru,”harapnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Regional I Sumatera Bank Indonesia Suhaedi mengatakan, sebagaimana kita ketahui bersama kondisi Sumatera saat ini masih menunjukkan ketergantungan terhadap SDA yang sangat besar, dengan porsi sebesar 35%, menyebabkan pertumbuhan ekonomi Sumatera sejak 2014 hingga kini selalu berada dibawah pertumbuhan nasional.

Tidak hanya itu, dinamika pertumbuhan ekonomi Sumatera disertai dengan fluktuasi yang cukup tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh masih bergantungnya kawasan Sumatera tersebut terhadap sektor ekonomi primer (ekstraktif), yaitu pertanian dan komoditas pertambangan.

Selain itu, struktur ekspor Sumatera lebih berbasis sumber daya alam sehingga merosotnya harga komoditas berdampak signifikan pada kinerja ekspor, yang pada gilirannya mempengaruhi perlambatan kinerja di berbagai sektor pertanian.

Di lain sisi, masih tingginya ketergantungan impor bahan baku/barang antara dalam produk atau kegiatan ekspor, menyebabkan sektor industri berorientasi ekspor tidak dapat secara optimal memanfaatkan depresiasi rupiah untuk meningkatkan kinerja ekspor.

Untuk menjawab tantangan struktural tersebut agar mencapai pertumbuhan Sumatera yang Strong, Sustained, Balanced and Inclusive, serta dalam mendukung target Current Account Defisit (CAD) kurang dari 2%, salah satu upaya dapat dilakukan adalah penguatan sektor pariwisata melalui peningkatan investasi dan promosi,”terang Suhaedi

Terkait dengan sektor pariwisata, kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa nasional merupakan salah satu yang tertinggi. Pada tahun 2017 tercatat penerimaan devisa dari komoditas pariwisata (jasa perjalanan dan tranportasi penumpang) sebesar USD14,2 miliar, atau nomor tiga setelah CPO dan batubara.

Namun, dibandingkan dengan pencapaian global maupun negara sekawasan, kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa Indonesia masih terbatas dan berpotensi untuk ditingkatkan. Sebagai gambaran, penerimaan devisa pariwisata Thailand tahun 2016 mencapai USD 52,5 miliar, Singapura USD 18,4 miliar, dan Malyasia USD 18,1 miliar.

Walupun peringkat Travel and Tourism Competitiveness Index 2017 Indonesia naik 8 peringkat dibandingkan 2015, namun masih tertinggal dari Thailand. Aspek yang tertinggal paling jauh dari Thailand adalah jasa-jasa pendukung turisme yang meningkatkan akses dan kenyamanan pengunjung (akses & amenitas).

Terkait dengan Kawasan Danau Toba, berdasarkan analisa big data dari Trip Advisor,review wisatawan terhadap destinasi Danau Toba secara umum sudah cukup baik.

Meskipun demikian, masih terdapat ruang untuk perbaikan yang cukup besar terutama di infrastruktur dan kebersihan,”paparnya.

Oleh karena itu, kami menyambut baik dimulainya kerjasama pengembangan ekonomi di kawasan Danau Toba antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara dan Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba ini. Maupun kerjasama antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara dengan Pemerintah Daerah Toba Samosir ini.

Melalui kerjasama ini kami harapkan Kawasan Danau Toba yang sudah di tetapkan sebagai salah satu destinasi prioritas pariwisata nasional dapat semakin maju sehingga dapat menyumbang pencapaian target nasional 20 juta wisman pada tahun 2019 dan 25 juta wisman pada tahun 2025.

Dampak lain yang lebih besar tentunya kita semua berharap akan semakin memperkuat perekonomian Kawasan Danau Toba pada khususnya dan Provinsi Sumatera Utara sehingga kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat,”tegasnya.

Dari sisi implementasinya, kami berharap kerjasama ini tetap difokuskan pada tiga elemen utama pertumbuhan ekonomi. Yaitu, pertama, penguatan “modal fisik” melalui akselerasi pembangunan proyek infrastruktur. Kedua, penguatan “modal manusia”. Dan ketiga, yang tidak kalah pentingnya, adalah “peningkatan produktivitas” untuk melipatgandakan nilai tambah faktor-faktor produksi yang ada,”pintanya.

Usai acara peresmian yang ditandai dengan penandatanganan MoU antara BI dengan Pemkab Tobasa dan Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba,  Sekdaprov Sumut Sabrina bersama rombongan juga melakukan penanaman bawang merah secara simbolis. Rencananya, penanaman bawang  akan menggunakan lahan seluas 2,5 hektar  dengan bibit bawang sebanyak 2,5 ton dari varitas terbaik.

Program demplot ini bekerjasama dengan 2 Gapoktan di Sigapiton yaitu Kelompok Tani Golat Sungsang (Nama Ketua: Ojak Sirait) dengan jumlah anggota 60 orang dan kelompok tani Golat Butar ( Nama Ketua:  Hasian Simaremare) dengan jumlah anggota 62 orang.

BI  juga memberikan bantuan bibit bawang brebes sebanyak 2,5 ton terdiri dari 3 varietas: bauji, tajuk, dan super philip. Selain itu kepada masing-masing kelompok tani juga diberikan bantuan berupa 1 buah motor roda 3 VIAR dan 1 buah hand tractor.

Jika kita lihat keinginan masyarakat setempat serta mendapat dukungan dari Pemeritah Pusat, Pemerintah Sumatera Utara, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara, Pemkab Tobasa Serta Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, ditambah lagi dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia dan masyarakat sekitar Danau Toba pada khususnya yang siap melayani dengan baik para wisatawan, ditambah dengan promosi Danau Toba dengan Program Toba Smile.

Bukan suatu hal mustahil, Desa Sigapiton yang dihuni sekitar 300 kepala keluarga ini dapat dijadikan destinasi atau tujuan wisata kedua selain pulau Bali di Indonesia yang nantinya akan berdampak kepada meningkatnya devisa dari sektor Pariwisata yang ada di Sumatera Utara khusunya dan Indonesia pada umumnya, inilah dia Desa Sigapiton yang merupakan Mutiara Tersembunyi Dibalik Keindahan Danau Toba. (mm)

Comment