oleh

Menikmati Citarasa Racikan Kopi Arabica di Tyyana Coffee Tapsel

“Merawat Kebun Kopi Layaknya Menjaga Anak Gadis”

BAGI pecinta kopi di tanah air, tidak ada salahnya berkunjung ke wilayah Tapanul Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut). Alasannya, di daerah itu banyak pengerajin kopi yang mampu meracik kopi spesial khusus citarasa Tapsel yang enak dinikmati.

Dari berbagai tempat dan jenis kopi yang tersedia di Tapsel, penulis kali ini berkesempatan berkunjung ke Tyyana Coffe, di Aek Sabaon Marancar, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Untuk sampai ke tempat ini, penikmat kopi hanya membutuhkan waktu perjalanan 40-45 menit perjalanan dari Kota Padangsidimpuan. Pembangunan infrastruktur yang saat ini dilakukan oleh pemerintah semakin mempermudah pengunjung untuk datang ke tempat itu.

Setihanya di tujuan, para pengunjung langsung melihat keindahan kebun kopi seluas lebih kurang 2 hektar. Sejumlah pondok sudah tersedia bagi para pengunjung. Tidak lama berselang, Abdul Wahid Harahap, si peracik kopi segera menyamperi pengunjung.

Laki-laki yang juga pemilik usaha tersebut langsung menuangkan segumpal bubuk kopi dan menyiramnya dengan air panas. Menurutnya, untuk menghasilkan rasa kopi yang baik, harus diaduk dengan suhu air yang sangat panas.

“Tujuannya, agar semua bakteri yang ada di kopi tersebut jadi mati, sehingga ketika sampai diusus tidak menjadi penyakit,” ungkap Wahid.

Menurutnya,  untuk menghasilkan bubuk kopi yang berkualitas tinggi, dia masih menggunakan metoda sangrai yang ditumbuk secara tradisional.

Kopi yang baru disajikannya kepada penulis tersebut dimasak dengan cara disangrai  atau sederhananya proses penggongsengan dengan api menggunakan kayu bakar hingga proses penumbukan biji kopi dengan alu atau tenaga manusia hingga menjadi bubuk kopi halus.

“Untuk kopi yang bermutu tinggi, sebelum diolah satu persatu biji kopi disortir mulai dari kadar air, kualitas kopi, keseragaman kopi dan kesempurnaan biji kopi yang harus diteliti dengan sabar dan seksama,” katanya.

Bagi laki-laki yang pernah menjadi sopir truck itu, batang kopi sudah seperti anak gadisnya. Sehingga, dia harus merawat batang kopi itu seperti anaknya sendiri.

Diceritakannya, beberapa tahun yang lalu, pemerintah akan melebarkan badan jalan di daerah itu. Tanpa terkecuali, batang kopi dia juga terkena pelebaran badan jalan.

Saat itu, dia langsung menggali dan memindahkan setiap batang kopi yang terkena pelabaran badan jalan.”Bagi masyarakat biasa, karena sudah ada ganti rugi, ya dibiarkan saja, tapi saya memindahkan batang kopi itu ke tempat lain. Namanya anak gadis kita, ya, harus dijaga,”imbuhnya.

Laki-laki yang akan menerima master kopi tersebut bertekad menjadikan komoditi kopi Marancar yang dia budidaya sendiri diatas hamparan lahan satu hektare di ketinggian 800 meter MDPL terbaik.

“Bukan bermaksud ria, walau sudah dikenal hingga luar negeri bahkan kebunnya kerap dikunjungi wisatawan untuk menikati kopi arabica racikannya  ia akan terus bekerja keras mengembangkan usaha perkopian tersebut hingga menggugah masyarakat banyak,”ujanya.(thoriq/mm)

Komentar

News Feed